Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah ala kulli hal, Allah berkesempatan mempertemukanku dengan sosok perempuan, yang meski tidak sampai satu jam kebersamaan yang kami habiskan, namun cukup mampu menyadarkan saya sebagai seorang pribadi yang perlu banyak bersyukur dan optimis menghadapi setiap takdir yang digariskan (mulai dramatis..hee). Berawal dari sebuah perjalanan yang tidak diinginkan (hehe), karena pada saat itu nyatanya saya salah naik kereta AC. Berhubung sedang ngejar waktu ketemuan dosen plus ka ekonomi yg belum jelas keberadaannya, yang pada awalnya saya kira kereta AC yang saya tumpangi berhenti di St. UI, ternyata kereta yg dimaksud baru berangkat setelahnya..dan Alhamdulillah.. karenanya saya bisa lebih lama ngerasain pemandangan di luar jendela plus sejuknya AC di kereta setidaknya sampai tiba di stasiun Gondangdia, hoho..
Sebut saja namanya Ibu Ira. Perawakannya sederhana dengan setelan yang biasa dipakai oleh wanita-wanita kantoran pada umumnya. Sejak awal mengambil posisi duduk disamping ku, sikapnya sudah menunjukkan keramahan. Ia menyapa saya dengan senyuman yang tampak terlihat melebar oleh karena bentuk wajahnya yang sedikit tirus. Ibu Ira ini ternyata lulusan administrasi fiskal UI angkatan 91. Setelah mengetahui bahwa saya berada di bawah almameter yang sama, beliau tampak senang dan menanyakan kabar teman2nya yang berprofesi sebagai dosen di kampus (sayangnya tidak semuanya saya kenal..:)). Sekelumit kisah kehidupan kampus pada masanya meluncur dari bibirnya, termasuk kisah bagaimana pada zamannya mahasiswa yang lulus tepat waktu masih tergolong langka dan untuk meraihnya pun diperlukan usaha yang sangat ekstra ![]()
Tahun ini adalah tahun kedua belas Ibu Ira bekerja di Departemen Luar Negeri (yang seketika mematahkan pengetahuanku bahwa yg dapat bekerja di deplu hanya berasal dari jurusan HI saja). Selama bekerja di Deplu, entah sudah beberapa kali beliau ditugaskan ke luar, baik dengan tuntutan menetap maupun tidak menetap. Yang menarik adalah ketika ia ditugaskan ke London dengan masa penugasan selama empat tahun. Saat itu, Ibu Ira dan keluarga sama sekali tidak membekali diri dengan kemampuan berbahasa Inggris..bahkan berpikir untuk mengikuti kursus terlebih dahulu pun tidak. Alhasil, bekalnya cukup dengan bismillahi tawakkaltu alallahi.. dan segenggam kepercayaan diri. Tapi toh hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk mempelajari bahasa dunia itu untuk menunjang karirnya. Dan Alhamdulillah..atas kuasa Allah terutama melalui faktor lingkungan lah, beliau akhirnya bisa cas cis cus berbahasa Inggris..=)
Mau tahu resep rahasianya?? *FarahQueenModeOn* Sstt..Alhamdulillah, beliau bersedia membagi sedikit tipsnya kepada saya ^^: baca selengkapnya
