*dikutip dari Serial Cinta Anis Matta
Lelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang sakit lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua itu diturunkan Allah SWT persis setelah perintah Tauhid.
Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Khalifah Umar Bin Khattab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” Lalu Umar R.A, pun menjawab: “Tidak! Tidak Cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu, mengasuhmu sembari mengharap kehidupanmu”.
Tidak! Tidak! Tidak!
Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi cuma meng-imbanginya. Sebab cinta seorang Ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dari dua hati. Namun ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang janin hidup bergeliat dalam sunyi sembari mengunduh saripati kehidupan sang ibu. Ia lalu keluar diantar darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.