Bismillahirrahmanirrahim.
Mungkin bagi sebagian besar orang, satu syawal menjadi hari penuh bahagia. Hari penuh suka cita. Hari yang menenangkan atas kemenangan yang diraih setelah sebulan lamanya kita bertarung dengan musuh terkuat kita, hawa nafsu kita. Hari yang penuh haru dimana lafadz tauhid diserukan dari berbagai penjuru. Hari yang menghibur, penuh rasa syukur.
Tetapi, entah apa yang dirasakan oleh keluarga khatib itu. Ya, khatib Idul Fitri yang mungkin tidak menyangka khutbah paska shalat ied menjadi amal shalih terakhir yang dikerjakannya. Khatib yang mungkin tidak menyangka beberapa saat lamanya malaikat maut sesungguhnya menjadi makhluk terdekat yang menemaninya, menyimak khutbahnya, menunggunya menyelesaikan barang sepuluh sampai lima belas menit qaulan tsaqila yang ringan meluncur dari bibirnya. Lewat perantaraan malaikatnya, Allah memberinya kesempatan barang beberapa menit untuk menyampaikan berbagai keutamaan Idul Fitri dan makna apa saja yang terkandung didalamnya.
Hingga waktunya pun tiba.
Belum sempat beliau menyelesaikan khutbahnya, tubuhnya sudah oleng, lantas tersungkur jatuh menghantam mimbar didepannya. Membuat mikrofon terjatuh dan mengeluarkan bunyi deziing yang nyaring. Menghentakkan ribuan jamaah shalat Ied yang ‘membanjir’ di hadapannya. Sang khatib mendapat serangan jantung mendadak. Pingsan seketika. Jamaah shalat ied panik, syok karena tidak tampak sedikitpun tanda sang khatib sedang menderita sakit. Kalimat-kalimat tauhid yang semula dilafadzkan kini berganti menjadi lafadz istighfar dan doa keselamatan untuk sang khatib. Dan, innalillahi wa inna ilaihi rajiun…gesitnya Honda CRV yang membawanya menuju RS terdekat ternyata tidak dapat menyelamatkan nyawa profesor ahli syariah itu.
Masya ALLAH, inilah kali kedua saya diingatkan tentang kematian di hari raya. Kejadian dua tahun lalu masih membekas dalam ingatan (kisahnya bisa dilihat disini). Dan kali ini, kembali Allah menegur, tidak hanya saya dan keluarga, tetapi juga ribuan jamaah yang ‘memutihkan’ alun-alun kabupaten Majalengka di pagi hari yang fitri itu.
Persoalan hidup dan mati berada diluar jangkauan kekuasaan manusia. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan maut menjemputnya. Tidak ada yang dapat mengetahui dalam keadaan apa malaikat Izrail memanggilnya. Tidak ada yang menerka seberapa bahagia atau justru seberapa tersiksanya ia menghadapi sakaratul maut. Tidak ada yang tahu kecuali Ia yang Maha Mengetahui. Tidak ada yang tahu kecuali Ia tempat kembali.
Jadi teringat dengan ucapan seorang hafidzhah, “Jangan terlalu cepat memberikan penilaian pada seseorang. Seseorang itu baru bisa kelihatan dia orang baik atau nggak, setelah kematiannya,” hmm..sangat layak untuk direnungi sepertinya
Ya Rabb, muliakanlah hidup kami dan matikanlah kami dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin
Wallahualam bisshawwab.
subhanalloh, mya..
ayo lanjutkan terus nulisnya…! hehe..
kangen mya deh……
antiii..kangeeen..iya ukh, doakan ya