Bismillahirrahmanirrahim.
Sabtu ini saya awali dengan permohonan maaf karena tidak dapat hadir pada walimahan dua teman di lokasi yang berbeda; Jakarta dan Padang. Namun begitu, semoga doa saya untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia dapat tersampaikan melalui pesan teman yang hadir dan perantara malaikat2 yang mengamininya,amiin.. (Special to Inayah Askar dan Siti Rahma ^^). Hari ini ada sesi kuliah Marketing Management dengan dosen tamu dari jam 10 sampai jam 12 siang. Awalnya sempat bimbang juga buat datang karena dari tengah malam benar2 merasa kurang sehat, tapi berhubung Allah masih ngasih kekuatan untuk bisa jalan dan gerak-gerik ditambah lagi tinggi nya ketertarikan saya buat mata kuliah yang satu ini (however this is my favourite class,hehe). Alhamdulillah saya sangat menyukai tema yang dibahas, dan kemudahan yang diberikan-Nya begitu hangat dirasa , sehingga ditengah2 kuliah dengan izin-Nya si sakit itu berangsur-angsur pergi juga (Huuffh,Terimakasih,Ya Syafii ‘
).
Kuliah marketing kali ini memang sedikit berbeda. Kami menggunakan seminar room karena kapasitas ruangannya lebih besar sehingga bisa memuat dua kelas sekaligus (eksekutif dan reguler B). Selang lima-sepuluh menit menunggu, akhirnya pembicara yang dinanti pun tiba. Beliau adalah Bapak Purwa Caraka. Performance-nya sangat khas, seperti yang tidak asing kita lihat pada pergelaran musik yang disiarkan berbagai stasiun tv. Berhubung beliau diundang menjadi guest lecturer untuk topik “Personal Branding”, maka kapasitas beliau saat itu bukan lagi sebagai seorang komposer atau musisi, melainkan seorang praktisi usaha di bidang pengajaran musik. Beliau adalah owner dari Purwa Caraka Music Studio, yang saat ini sudah memiliki 80 cabang usaha yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan lebih dari 2000 karyawan. Memiliki pengalaman operasi selama 23 tahun membuat Purwa Caraka berhasil meraih market share yang cukup tinggi di industri pengajaran musik Indonesia dewasa ini.
Kuliahnya berlangsung santai dan terkadang diselingi oleh humor2 pak Purwa yang membuat hadirin lepas tertawa. Beliau memulainya dengan melempar pertanyaan “Apa yang membedakan rumah makan padang yang satu dengan yang lainnya?” Ada yang menjawab bumbu yang digunakan, supplier bahan, prosedur masak, lokasi, target market, sampai dengan rasanya. “Ok semuanya benar. Tapi yang paling tepat cuma satu, yaitu SoP –nya (Standard of Procedure-red). Ada rumah makan padang yang berani buka cabang dimana-mana dengan rasa yang dijamin sama, ada pula rumah makan padang yang hanya dibuka di satu lokasi aja. Nah, biasanya untuk sistem franchise,yang cabangnya dimana-mana, memiliki standar pelayanan tertentu yang harus dipenuhi sehingga hampir nggak ada bedanya kalau kita makan di rumah makan padang Seder***a di cabang X dengan kita makan di cabang Y..” .
Lalu, beliau menambahkan, adanya SoP tidak harus selalu menjadi rahasia perusahaan, beberapa usaha restoran cepat saji bahkan berani mempublikasi SoP nya di depan para konsumen . Alasannya mudah saja, mereka tidak takut SoP nya diketahui karena mereka tahu, bahwa yang terpenting bukanlembaran kertas itu saja melainkan konsistensi dari implementasinya di lapangan. Dengan SoP yang jelas,dan sikap disiplin stakeholder terhadap SoP itu sendiri, maka perusahaan cenderung cepat sukses dan dipersepsikan memberi guarantee yang tinggi bagi consumersnya. Contoh pelaksanaan SoP diantaranya memastikan karakteristik partner usaha (dalam hal ini, buat franchisor sebaiknya jangan fokus pada profit. fokuslah pada produk/jasa-nya.Dengan terus menjaga dan meningkatkan kualitas produk yg ditawarkan profit akan dengan sendirinya meningkat ).
Sebenarnya poin pertama ini sangat menarik dicermati, mengingat tidak sedikit calon franchisee (pewaralaba) yang berpandangan dengan membuka suatu cabang usaha (apalagi yang udah punya brand image tinggi, learning curve relatif singkat, dan nggak perlu susah payah marketing), berbagai kemudahan akan diraih sehingga pendapatan pun akan mengalir ke kantung dengan sendirinya dengan hanya sedikit effort. Hmm, inilah yang disebut beliau sebagai pemahaman yg salah kaprah, bagaimanapun kunci kesuksesan usaha tersebut ada pada 50% effort franchisee dalam mengembangkan usahanya, apalagi jika berbenturan dengan kondisi yang kurang memberikan kepastian seperti banyaknya pesaing, lokasi usaha, disiplin karyawan,dsb. Bagaimanapun franchisee perlu menjaga nama baik brand yang digunakan agar tetap dapat memberikan percayaan dimata konsumen dan produknya semakin banyak diminati (toh, jumlah bayi yang lahir terus bertambah > kebutuhan hidup bertambah > calon target market meningkat
).
Kemudian materi SoP lainnya bisa dilihat dari sisi training pegawai, supplier material, jadwal produksi, kurikulum, evaluasi, harga, media promosi,lokasi usaha dan masih banyak lagi. Tetapi, ada kalanya franchisee harus berhadapan dengan situasi mendesak yang tidak dapat dipecahkan berdasarkan SoP sehingga langkah-langkah penyelesaiannya pun akan dikembalikan kepada franchisee tersebut, ia akan diberikan kewenangan oleh pusat untuk menyelesaikannya dengan menggunakan kreativitias dan intuisinya sendiri (selagi tidak bertentangan dengan visi perusahaan). Misalnya, dari kebijakan harga. Di beberapa daerah, bisa saja franchisee mematok harga yang sedikit lebih tinggi dikarenakan: biaya hidup di daerah yang bersangkutan tinggi, target konsumen menengah ke atas, sekolah musik dipandang memiliki kualitas yang tinggi sehingga jika dipatok dengan harga rendah, malah membuat calon konsumen ragu dengan kualitasnya. Hal ini dapat berlaku sebaliknya juga yah
.
Mengenai personal branding sendiri, memang tidak sedikit pengusaha yang menggunakan namanya sendiri sebagai brand usaha miliknya. Fenomena ini biasanya lebih mudah kita temukan pada industri-industri kreatif semisal industri tas, sepatu, pakaian, musik, makanan, dll. Seseorang yang sudah dikenal masyarakat luas sebagai ahli dalam bidang tertentu akan lebih mudah memasarkan produk dengan brand berupa namanya sendiri. Tetapi bukan berarti personal branding ini tidak menemui yang namanya risiko bisnis. Beberapa tantangan yang muncul diantaranya kesiapan manajemen perusahaan dalam mengelola bisnisnya bilamana sang pendiri sudah tidak lagi dapat berkontribusi atau karena beberapa faktorlain seperti dilanda gosip buruk, pencemaran nama baik, sakit atau bahkan (maaf) meninggal dunia. Disinilah komunikasi atau transfer knowledge itu menjadi suatu hal yang sangat penting dilakukan sejak dini. Dari Sang Ahli kepada orang yang tentunya dapat beliau percayai (the second generation) dan tentunya, kebermanfaatan efektivitas SoP benar2 akan sangat dirasakan disini, sebab konsumen tidak lagi terbatas berpikir siapa yang berada dibalik usahanya, akan tetapi lebih dari itu, high guarantee atas kualitas dari usaha itu sendiri.
Di akhir sesi, Pak Purwa mengaitkan kesuksesan personal branding dengan Disneyland dengan sedikit joke.
” Contohnya, Disneyland.Kira2 apa yang pertama kali ada di pikiran anak-anak ketika mau bermain ke Disneyland? dengan siapa mereka lebih ingin bertemu, dengan lukisan pendirinya, Walt Disney, atau dengan tokoh ciptaannya,Mickey Mouse? “ Hmm..bagaimana dengan jawabanmu? ![]()
Wallahualam bis shawwab.